Senin, 17 November 2008

Si Tukang Kayu dan Rumahnya

Seorang tukang kayu tua bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah perusahaan konstruksi real estate. Ia menyampaikan keinginannya tersebut pada pemilik perusahaan. Tentu saja, karena tak bekerja, ia akan kehilangan penghasilan bulanannya, tetapi keputusan itu sudah bulat. Ia merasa lelah. Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan keluarganya.

Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk dirinya.

Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu. Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan. Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Ia cuma menggunakan bahan-bahan sekedarnya. Akhirnya selesailah rumah yang diminta. Hasilnya bukanlah sebuah rumah baik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri kariernya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan.

Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ia menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu. “Ini adalah rumahmu, ” katanya, “hadiah dari kami.”

Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesalnya. Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya sendiri, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali. Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri.

Itulah yang terjadi pada kehidupan kita. Kadangkala, banyak dari kita yang membangun kehidupan dengan cara yang membingungkan. Lebih memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang baik. Bahkan, pada bagian-bagian terpenting dalam hidup kita tidak memberikan yang terbaik. Pada akhir perjalanan kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan sendiri. Seandainya kita menyadarinya sejak semula kita akan menjalani hidup ini dengan cara yang jauh berbeda.

Renungkan bahwa kita adalah si tukang kayu. Renungkan rumah yang sedang kita bangun. Setiap hari kita memukul paku, memasang papan, mendirikan dinding dan atap. Mari kita selesaikan rumah kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah hanya mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup. Biarpun kita hanya hidup satu hari, maka dalam satu hari itu kita pantas untuk hidup penuh keagungan dan kejayaan.

Apa yang bisa diterangkan lebih jelas lagi. Hidup kita esok adalah akibat sikap dan pilihan yang kita perbuat hari ini. Hari perhitungan adalah milik Tuhan, bukan kita, karenanya pastikan kita pun akan masuk dalam barisan kemenangan.

Pojok Renungan:
“Hidup adalah proyek yang kau kerjakan sendiri.” (Adapted from The Builder -Cecilia Attal)

Dikirim dari Pemimpin Redaksi Majalah Al-Mujtama', Hepi Andi
Website: www.al-mujtama.com.
"Jazakallahu Pak..."

Lewat Semesta

satu kata bertulis cinta
telah merasuki ku
tak berwujud tak tersentuh
hanya ku rasa

dan jika wujud yang menjelma
pada sebentuk hati
bukankah itu amanah dari yang kuasa
menjaganya, menjaganya
wahai insan yang di sana
mungkin saja ini kau dengar
melewati semesta ini
aku sampaikan

begitu ingin berbagi bagi
mendengarkan hasrat di jiwa
oh Tuhan..... pertemukan aku
sebelum hatinya beku
By. Randy
Lagu cinta pop melankolis. tapi lirik nya sangat.....religi

Fuiiih....*&%#@!

Masya Allah.....

Hari ini sangat sibuk. pukul segini (17.30) belum juga beranjak pulang. masih ada pekerjaan yang harus kuselesaikan. hhmmm, kayanya akan aku jadikan PR aja. dan besok, harus segera dikumpulkan. karena akan diperiksa Pak Guru.
baru terasa, lelah...

Pengen pulaaaangg!

Kamis, 13 November 2008

Ku Bertanya

Haruskah pergi melintasi hati sendiri?
Perlukah kembali lagi?
jika angin tak membawanya lagi
haruskah tetap di sini?

beribu senyum tak berarti
berderai air mata tak kuasa
berjuta harap
menjatuhkan ku ke lubang gelap

cahaya itu jauh terpancar
tak mampu ku gapai
meski jauh,
semoga mampu menyinari
sudut hati

Kamis, 06 November 2008

Menulis Sebagai Terapi

Selalu ada hikmah di balik tiap kejadian. cinta, benci, sayang, marah, senang, sedih, haru, pilu, sakit, rindu, kecewa, kapala pusing, badan pegal-pegal, perut mual (itu sih masuk angin kalee. hehehe) semuanya.....semua peristiwa, semua rasa. terkadang hikmah itu teramat halus, hampir tak terlihat. tapi, jika kita mau merenung dan mencarinya, pasti akan kita temukan. dan dengan rasa syukur....aaah...alhamdulillah kita lega menemukannya.

beberapa minggu belakangan ini, banyak sekali yang kurasa, campur aduk, jadi satu. kalau gado-gado, dicampur jadi enak. tapi kalau hati?? fuuuiih, susah ngungkapinnya. rasanya ingin teriak saja di atas atap rumah, setelah itu pergi ke rumah tetangga sambil membawa seloyang kue, kemudian meminta maaf karena telah mengganggu tidur nyenyak mereka. dan berharap setelah kue mereka makan, campur aduk di hatiku itu akan lenyap. segala masalah akan langsung ketemu solusinya. hehehe...mungkinkah?? bukannya mengurangi beban, bisa-bisa diprotes warga sekampung dan dianggap “kurang sehat”

jangankan teriak, sekadar cerita dengan orang terdekat saja kadang-kadang sulit. bahkan dengan orang-orang yang kita percaya sekalipun. ada kekhawatiran justru membebani pikiran mereka. meskipun sebenarnya belum tentu begitu. karena orang-orang yang sayang dengan tulus kepada kita, akan selalu ada untuk kita. tapi, kita harus mengerti orang lain kan? tidak mungkin kita curhat kepada orang lain ketika orang itu justru sedang punya banyak masalah. di mana empati kita??

Hingga satu waktu, ku ingat sebuah kalimat dari Mba Asma Nadia. Dalam bukunya "catatan hati seorang istri"*, ia menasihati untuk semua perempuan "menulislah!. semoga dengan tulisan itu, mampu menjadi terapi bagi hati hati yang terluka, sakit, sedih, putus asa. selain bisa juga menorehkan prasasti kebahagiaan yang tak terlupa." ku baca kembali buku itu, di halaman depannya, terdapat tanda tangan penulisnya. beserta sebuah pesan, "Nulis Yuk Nia!"

dari situ, buku diary yang jarang terisi, kini mulai penuh terisi. diary yang dulu ku tulis ketika ada hal-hal penting saja. sekarang, hampir setiap hari, tepatnya setiap malam aku menulis apa saja yang aku rasa. sebelum tidur, baca buku dulu, dilanjutkan dengan menulis diary dan baca doa tidur deh...., feminim sekali ya? hehehe.

aku jadi punya dua diary. diary elektronik (alias blog ini) dan diary klasik berwarna merah jambu pemberian seorang sahabat yang wangi ketika kita cium lembarannya. ada perbedaan mendasar mengenai isi antara diary elektronik ini dengan diary klasik ku. kalo diary elektronik, aku bisa menulis apa saja yang aku mau. hari-hariku, pengalamanku, tausyiah, apapun. tapi....tidak terlalu pribadi. sedangkan diary klasikku, hal-hal yang sangaat pribadi dan confidential ada di situ. cuma aku yang tahu. yang lain?? no way! (ups, tapi hati-hati meletakkannya, kalo gak hati-hati bisa dibaca orang!)

Alhamdulillah, menulis memang bisa menjadi terapi penyembuh yang cukup efektif buat ku. ya,,,minimal aku bisa mencurahkan segala isi hatiku di situ. di saat kita tak tahu harus kemana mengadu.

akhirnya jalan terakhir melepas segala gundah gulana, kesedihan, kegembiraan, keharuan, dkk nya yaitu bercerita pada-Nya. Dia akan selalu mendengarkan. segala kesedihan, kemarahan, kelemahan kita...hanya pada Nya kita berserah, berpasrah. ketika jalan buntu, ketika kaki sudah tak mampu menapak, ketika air mata tak henti mengering, ketika semua tak ada. hanya Dia....
tak ada yang lain yang pantas kita harapkan. Hanya Dia...yang selalu ada...

NB:* Nama blog ini, catatan hati, hampir sama dengan judul bukunya Mba Asma. tapi,,,bukan aku yang jiplak loh. asli....! blog ini duluan yang terbit, setelah itu baru bukunya Mba Asma. Atau...jangan-jangan..Mba Asma yang terinspirasi dari blog ku?? hehehe..sorry Mba, becanda...:)

Rabu, 05 November 2008

Kepemimpinan si Gadis Kecil

Kemarin, 5 November 2008 sepulang dari kantor, seperti biasa aku naik mikrolet menuju rumah tercinta, Kebon Jeruk. sampai di pasar Palmerah, dua ibu naik beserta 1 gadis kecilnya, kira-kira berusia 8 tahun.

di dalam mikrolet, suasana menjadi ramai, dua ibu tadi berbicara keras, marah-marah. mereka masing-masing mengeluarkan segala unek-unek mereka. dari pembicaraan yang aku dengar. pasalnya kekesalan mereka bermula ketika turun dari kereta api. salah seorang dari mereka yang dipanggil mami menyerahkan tiketnya kepada seorang penumpang.

"Gue kasihan sama tuh orang, kereta udah mau jalan tapi dia belum sempat beli tiket, ya gue kasih aja tiket gue." dia menjelaskan. si gadis kecil berambut panjang kemerahan meletakkan telapak tangan kanannya ke dada si mami. "sabar mi, sabar ya" tangannya tetap menepuk-nepuk halus dada si mami.

"lagi pula, waktu gue sodorin tiket gue di kereta, petugasnya malah gak ambil. ya udah gue pikir gak perlu pake dikasih ke petugasnya lagi. eh...pas turun dari kereta tiket gue diminta, gue bilang, gue udah kasih ke orang lain. lagian waktu gue sodorin tuh petugas gak mau." tambahnya
"gue diseret-seret kaya maling, emang gue penjahat apa?" tambahnya makin emosi. si gadis kecil kembali menepuk-nepuk lengan si mami dan berbisik "sabar mi, udah sabar..."

"iya, kan gue udah bilang, "pak dia gak tahu caranya naik kereta ekonomi, biasanya naik kereta jauh. akhirnya tuh bapak agak ngerti juga. tapi tetap harus bayar tiga kali lipat kan?" si mama menimpali

" yah lumayan lah, dari pada 10 kali lipat" si mama menimpali lagi

"kesel gue, mungkin karena dia lihat gue orang china kali. biar pun china, tapi suami gue kerja di pemda!" gadis kecil kembali menepuk-nepuk halus dada si mami. sembari berkata "sudah mam, sabar...sabar..." si mami tidak memperhatikan gadis kecilnya.

seketika suasana kembali henig, mungkin karena lelah berkoar-koar di mikrolet. aku perkirakan, semua penumpang pasti mendengarkan cerita mereka. meskipun pura-pura acuh.
si Gadis kecil melongokkan kepalanya lewat jendela, pandangannya kosong melihat-lihat sekitar jalan. sambil mengedepankan telapak tangannya seperti hendak menyetop mobil, tiba-tiba dia berkata, "mama, udah ya mama jangan ngomong lagi. sekarang mami sudah tenang"

Yang ingin saya sampaikan di sini, bukan konflik yang terjadi di mikrolet. tapi, yang menarik perhatian saya adalah sikap si gadis kecil untuk menenangkan situasi. usianya baru sekitar 8 atau 9 tahun. gayanya pun masih seperti anak kecil. tapi, di balik raganya yang masih kecil itu, dia memiliki jiwa kepemimpinan.

jiwa kepemimpinan bisa didapat dari banyak faktor. bisa dari genetik, lingkungan, ataupun dengan belajar. saya sangka, jiwa kepemimpinan yang dia miliki berasal dari faktor genetik. bagaimana cara dia menenangkan situasi, cari dia yang bicara halus ketika menasihati maminya, dan juga cara bicaranya yang tegas ketika memperingatkan seseorang. dan yang tak kalah menariknya ialah bagaimana ia mampu secara efektif menggunakan bahasa tubuhnya, gerakan tangannya, tatapan mata yang lembut ketika menasihati, tatapan mata yang tajam ketika memperingatkan orang lain, bagiku itu sangat menarik. aku jadi membayangkan bagaimana kiranya si gadis kecil itu 20 tahun yang akan datang. mungkin saat itu dia telah memimpin satu departemen tempat dia bekerja, atau menjadi bos dari usaha yang ia geluti.

semoga saja orang-orang di sekitarnya, khususnya orang tua, sadar dan mengetahui kelebihan yang dimiliki si gadis kecil itu. untuk kemudian mampu mengarahkan bakat tersebut agar berkembang dan bermanfaat untuk lingkungannya. tentunya, bukan hanya bakat kepemimpinan yang dikembangkan, tapi juga kompetensi-kompetensi yang lain. dan yang tidak kalah penting, akhlaq, yang harus dibina sedari kecil.

7 November 2008

12.10 WIB

Selasa, 04 November 2008

Hilang (Episode 2)

Apakah setelah menikah kita harus meninggalkan sahabat-sahabat kita??

Aku mengerti, sepenuhnya paham. setelah menikah, suami kita lah orang nomor 1 di hati dan di hidup kita, bahkan melebihi orang tua kita sendiri. orang tua nomor 2 setelah suami/istri.
Apalagi orang lain seperti aku??
aku hanya merasa kehilangan....
satu persatu sahabatku permisi meninggalkanku. aku bahagia dengan kebahagiaan mereka. bertemu dengan belahan jiwa dan menjadi pendamping hidup, selamanya.

sahabat, dulu kita pernah sangat dekat...sangat...
lalu kau menikah, aku bahagia....

tapi, semakin lama kau semakin menjauh dariku
sekarang, kau memang telah mendapatkan orang yang lebih baik dariku
seseorang yang selalu berada di sampingku
seseorang yang selalu mendengar keluh kesah mu
seseorang yang akan menghapus air matamu
mengecup mata mu

tidakkah kau merindukan ku?
seseorang yang masih menganggapmu sebagai sahabat
kita pernah menangis bersama
tertawa bersama, semangat melewati hari
hhh...hhhh

aku merindukanmu

sekadar menanyakan kabarku di sini,,,
sulitkah??

Minggu, 02 November 2008

Hilang (episode 1)

Aku merasa kehilangan sahabat. satu persatu, secara halus, mereka pergi meninggalkanku. sebenarnya mereka tidak pergi meninggalkanku. tetapi, mereka pergi untuk menjelajahi kehidupan mereka yang baru. dan aku, merasa sendiri.

"Ni" dan "No"

dulu, kami pernah begitu akrab. kemana ada aku, pasti ada dia. masa-masa SMA itu merupakan masa terindah bagi kami. segala kegiatan sekolah kami ikuti, mulai dari ROHIS, PASKIBRA, pengajian, belajar bersama. kami sering curhat. menceritakan tentang banyak hal. berdiskusi. ia sering kali menasihati ku jika ada hal-hal yang tak pantas aku lakukan. ia sudah ku anggap sebagai kk ku sendiri. tapi, kemana dia sekarang??

hubungan kami mulai renggang ketika kuliah. meskipun satu kampus, tapi kami beda fakultas. kegiatan kuliah, aktivitas di kampus, membuat komunikasi semkin terbatas. tapi, hatiku tetap dekat dengannya. semoga dia juga merasakan hal yang sama.

terlebih lagi setelah aku lulus kuliah dan bekerja. sangat jarang bersua. beberapa kali aku sms. tapi tak ada balasan. kemana kah kau sahabat? bahkan lebaran kemarin, sms ku juga tak berbalas. 2 November 2008, ulang tahunmu ke 24. kuucapkan seuntai doa indah untukmu.

sahabatku sayang, saudariku tercinta...
bagaimana kabarmu?
lupakah kau akan persahabatan kita?
tidakkah kau merindukanku?
jika kau membaca tulisan ini, ingin kusampaikan
aku merasa kehilangan dirimu
aku merindukanmu

mungkin, ada luka yang tergores di hatimu oleh salahku
mungkin, aku bukan sahabat yang baik untukmu
mungkin, aku tak pernah hadir ketika kau membutuhkanku
mungkin....

maafkan aku....
meskipun ku tak tahu bagaimana keadaanmu saat ini
kau tetap di hatiku....